Selektif dalam Memilih Produk-Produk Personal Care

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan mengenai berbagai aktivitas lingkungan hidup, mulai dari diet plastik misalnya yang dipelopori oleh “Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik”. Campaign diet plastik ini cukup crowd dimana-mana, mulai dari iklan layanan masyarakat di radio, spanduk/ banner di jalan, bahkan info yang sangat lengkap yang dimuat di website dietkantongplastik.info. Semua campaign tersebut tujuannya satu, yaitu agar menyadarkan masyarakat bahwa penggunaan kantong plastik yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi lingkungan.

Kemudian, ada pula campaign layanan masyarakat untuk hemat berbahan bakar, dimana diketahui dalam beberapa tahun ke depan bumi akan mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) karena merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Masyarakat pun mulai dianjurkan untuk lebih sering menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi, serta mulai gencarnya pengembangan-pengembangan energi alternatif terbarukan.

Jika dilihat pada 2 kasus sebelumnya, kasus-kasus tersebut mengerucut pada 1 hal, yaitu “ramah lingkungan”, dimana konsumen diberikan pengertian agar bijak dalam penggunaan sumber daya alam. Saya sendiri setuju dengan quotes yang diungkapkan oleh Vincent Van Gogh bahwa “Great things are done by a series of small things brought together”, dimana gerakan ramah lingkungan ini tidak bisa hanya dengan 1 hari kita kerjakan dan setelahnya kita lupakan, betul adanya dari hal-hal kecil lah yang harus kita pertahankan namun berkelanjutan.

Setiap hari kita melakukan rutinitas yang sama, yaitu bangun pagi, sembahyang, mandi dan berangkat ke kantor lalu beraktivitas sampai jam pulang kantor tiba dan saat weekend, kita pun menyempatkan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Bagi kebanyakan orang, shopping list yang selalu ada setiap bulannya adalah kebutuhan produk-produk pribadi (personal care) tentunya, seperti pasta gigi, sabun mandi, body lotion dan lainnya. Nah, dari sini lah peran “small things” bertindak, apakah kita mampu menciptakan rutinitas kita sebagai rutinitas yang mendukung ramah lingkungan? Apakah kita selektif dalam memilih produk-produk yang dibeli?

Beruntunglah bagi mereka yang berlatar belakang dari ilmu pangan ataupun gizi (seperti saya hehe..) karena kami-kami inilah yang digencarkan dalam keharusan untuk mengecek kembali setiap label kemasan sebelum membeli. Hal mendasar ini ternyata sangat bermanfaat terhadap kehidupan saya sekarang ini. Saya selalu melihat setiap kemasan yang saya beli dan mengecek keterangan yang tertulis, seperti kandungan, tanggal kadaluwarsa, sertifikasi halal, perusahaan yang memproduksi dan tidak kalah penting adalah simbol-simbol dalam kemasan. Simbol-simbol inilah yang menggambarkan seberapa peduli produk tersebut dalam mendukung lingkungan, seperti reduce, reuse, dan recycle.

Tidak hanya kemasan yang dapat menggambarkan keramahan lingkungan suatu produk, namun juga bahan baku yang terdapat pada produk tersebut. Contohnya saja adalah produk pasta gigi yang setiap pagi dan malam kita pakai itu, terdapat ‘gliserin’ di dalam kandungannya. Gliserin merupakan salah satu golongan oleokimia, yang diperoleh dari minyak nabati, termasuk diantaranya minyak sawit dan minyak inti sawit (click sumber).

Ditelusuri dari situs Gapki.or.id, pengunaan minyak sawit ini mempunyai potensi aplikasi yang luas, dimana 80% nya untuk industri pangan dan 20% untuk industri non-pangan. Berjumlah dari 20% industri non-pangan tersebut, penggunaan minyak sawit ini banyak pula digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pasta gigi, sabun mandi maupun body lotion, karena menggunakan gliserin sebagai bahan dasar. Produk-produk tersebut ternyata sangat dekat perannya dengan hidup kita sehari-hari dan saya pun menyadari bahwa setiap bulannya pasti saya membeli produk-produk tersebut.

Sebagai konsumen, ada baiknya kita selektif dalam memilih produk, disini saya menyebutkan kata ‘selektif’ dan bukannya ‘picky’ karena kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Menurut Christie Hartman, PhD dalam bukunya It’s Not Him It’s You, Picky mengartikan: melihat suatu hal hanya pada karakteristik yang terlihat saja (appearance) dimana selektif adalah melihat bagaimana suatu produk terhubung dengan konsumen nya. Definisi selektif ini sangat luas, bisa jadi dengan cara selektif kita tidak hanya melihat suatu produk hanya karena ‘brand’ nya yang terkenal maupun gengsi, tapi kita juga dapat melihat bagaimana suatu produk tersebut peduli dengan konsumen dan juga lingkungan nya.

Beberapa hal berikut sudah saya rangkum, dimana hal-hal ini dapat diperhatikan saat membeli produk-produk personal care yang berbahan dasar sawit, seperti pasta gigi, sabun mandi, maupun body lotion. Kamu yang mana? Picky atau selektif?

1.Pentingnya Informasi Kandungan yang Tercantum di Label

Picky : Konsumen yang picky akan tidak memerhatikan hal ini

Selektif : Konsumen selektif akan memerhatikan kandungan yang mereka beli, dimana akan berguna pula bagi mereka untuk mengetahui kadar apa saja yang berbahaya atau tidak berbahaya

2.Mengerti simbol-simbol pada kemasan

Picky : Ini simbol apa ya? Ini bukan urusan saya

Selektif : Saya tahu terhadap simbol-simbol pada kemasan, dan saya peduli mana saja kemasan yang ramah lingkungan maupun tidak. Jika tidak terdapat simbol yang menunjukkan ramah lingkungan, saya dapat mengingatkan orang-orang sekitar saya agar turut membantu untuk tidak mengonsumsi maupun membeli produk-produk tersebut.

3.Sadar terhadap logo RSPO

Picky : Hay, ini logo pohon. Mungkin ini suatu organisasi ya?

Selektif : Hebat! Produk ini sudah berlabelkan RSPO, saya percaya bahwa produk ini mendukung gerakan sustainable palm oil.

Melihat hal ini, mari bantu bumi kita tercinta dengan berbagai kebaikan behavior kita. Nggak susah kok, kalau dimulai dari sekarang🙂.

Comments Box

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s