Nilai Historis Tumpeng Sebagai Hidangan Nasional

Nasi sebagai khas makanan pokok Indonesia dikonsumsi dengan sayur-sayuran maupun lauk pauk sebagai hidangan pelengkap. Nasi juga dapat diolah menjadi makanan bentuk lain yang dapat digunakan dalam berbagai upacara, yaitu dalam bentuk tumpeng. Dalam buku “Nasi Serba-serbi cumpeng; Tumpeng Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa” yang ditulis oleh Lily Erwin menyebutkan bahwa tumpeng memiliki makna-makna dalam kehidupan Manusia Jawa. Menurutnya, tumpeng disebutkan dalam naskah Sastra Ramayana, Arjuna Wijaya dan Kidung Harsa Wijaya bahwa menjadi hidangan dalam berbagai pesta.

Kepercayaan pembuatan tumpeng yang tidak hanya untuk dikonsumsi sehari-hari namun juga memiliki nilai-nilai historis di dalamnya berkembang di Masyarakat Jawa. Mereka percaya bahwa dengan menyajikan tumpeng adalah hal yang ritual, yaitu untuk mensyukuri nikmat Tuhan, memohon perlindungan dan keselamatan, memperingati peristiwa-perostiwa penting serta untuk menyampaikan keinginan tertentu agar terkabul (Erwin, 2009).

Tumapaking penguripan-tumindak lempeng tumuju Pangeran adalah kepanjangan dari tumpeng yang mengartikan bahwa manusia itu harus dijalan Tuhan. Masyarakat Jawa mempunyai kepercayaan bahwa ada kekuatan gaib di luar diri manusia yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka (Erwin, 2009). Oleh karena itu, mereka merasa perlu memelihara hubungan dengan kekuatan tersebut agar terjadi keseimbangan dengan kehidupan mereka, yaitu dengan cara selamatan.

Tumpeng inilah yang disajikan dalam acara selamatan tersebut, sehingga setiap unsur-unsur bentuk tumpeng beserta lauk pauk nya mempunyai makna-makna historis sendiri. Contohnya adalah bentuk tumpeng yang dibuat meruncing ke atas melambangkan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena memiliki kaitan yang erat dengan langit dan surga yang merupakan harapan agar kehidupan kita meningkat, kemudian  aneka lauk yang ditata sekitar tumpeng melambangkan rakyat yang sejahtera. Makna lain dari penempatan tumpeng beserta lauk pauknya ini juga menyimbolkan gunung dan tanah yang subur di sekeliling gunung.

Mengenai makna dibalik bentuk tumpeng yang kerucut inipun beragam, ada yang menyebutkan bahwa merupakan cerminan kepercayaan masyarakat masa Hindu-Budha yang menganggap Gunung Mahameru sebagai tempat suci dan keramat, ada pula yang menyebutkan merupakan lambang antara hubungan manusia dengan Tuhan, kemudian melambangkan tingkat kesulitan manusia dalam mencapai kesempurnaan, yaitu makin tinggi tingkat kesempurnaan, makin sedikit orang yang mampu dan memenuhi persyaratan. Sedangkan dalam ajaran Islam, tumpeng menggambarkan ketauhidan. Bentuk tumpeng yang lancip mengarah ke atas, yaitu ke arah Tuhan.

Pada jaman globalisasi ini, makna tumpeng yang paling mendekati adalah bermakna kebersamaan yang terbukti bahwa dengan menyajikan tumpeng disertai pula dengan makan bersama untuk memohon keselamatan. Walaupun penyajian tumpeng berbentuk kerucut, warna dari tumpeng pun memiliki makna yang berbeda. Tumpeng yang disajikan dengan nasi putih atau tumpeng putih melambangkan kesucian, sedangkan tumpeng yang disajikan nasi kuning atau tumpeng kuning melambangkan masa keemasan, yaitu diharapkan rezeki akan melimpah dan masa depan nya cemerlang.

Tumpeng Kuning

(Erwin, 2009)

Kelengkapan lauk-pauk tumpeng putih dan tumpeng kuning ini pun memiliki perbedaan. Dikutip buku “Tumpeng; Sajian Istimewa Untuk Selamatan” yang ditulis oleh Lily Erwin menyebutkan bahwa  kelengkapan lauk-pauk pada tumpeng putih terdiri dari :

  • Ayam panggang bumbu rujak atau ayam ingkung
  • Ikan asin
  • Urap
  • Telur pindang
  • Tahu tempe bacem
  • Dendeng ragi
  • Kadang ditambah sayur kluwih

Sedangkan pada tumpeng kuning antara lain :

  • Kering tempe
  • Kentang dan teri
  • Sambal goreng hati
  • Dendeng ragi
  • Ayam goreng
  • Perkedel
  • Udang
  • Dadar telur

Didalam buku tersebut pun menyebutkan bahwa tumpeng putih biasanya disajikan dalam ritual kematian ataupun siraman pada upacara perkawinan. Simbol-simbol kelengkapan lauk-pauk nya itu sendiri antara lain :

  • Taoge menyimbolkan aktivitas
  • Kacang panjang menyimbolkan dari pikiran dan usia
  • Baya menyimbolkan ketentraman
  • Kangkung menyimbolkan keluwesan
  • Sayur kluwih menyimbolkan kelebihan baik dalam hal rezeki dan kepandaian
  • Telur rebus menyimbokan konsep akan merencanakan sesuatu agar terlaksana
  • Teri menyimbolkan kegotong royongan dan kebersamaan karena semasa hidupnya, ikan teri selalu hidup berkelompok
  • Ayam ingkung menyimbolkan pengorbanan

Sedangkan penyajian tumpeng putih biasanya disajikan pada ritual kelahiran, ulang tahun, khitanan, pertunangan, perkawinan, dan upacara tujuh bulanan (tingkepan).

Tumpeng Putih

(Erwin, 2009)

Selain di Masyarakat Jawa, tumpeng juga ternyata dibuat oleh Masyarakat Sunda, Madura dan Bali sebagai sajian untuk upacara adat,seperti jenis tumpeng tolak bala, robyong, tasyakuran, pungkur dan golong.  Wah, setelah saya membaca 2 sumber tersebut, saya makin kagum akan hidangan kebudayaan Indonesia karena terdapat filosofi yang kuat didalamnya. Hal inilah yang belum saya temukan dalam kebudayaan negara lainnya. Saya jadi penasaran apakah burger, spaghetti ataupun jenis makanan khas negara lainnya pun punya nilai historis selengkap ini? Bila pada tumpeng tersimpan makna dibalik warna dan bentuknya, apakah burger yang berlapis-lapis dan segala isinya juga mempunyai nilai historis ya?

Kekayaan-kekayaan bangsa inilah yang harus selalu kita jaga ya? Karena kalau bukan rakyat nya sendiri lalu siapa lagi? Jangan sampai seperti jenis  makanan rendang ataupun batik yang akan di ambil alih oleh Malaysa barulah kita bertindak. Cintailah produk negeri kita sendiri. Ini dia yang benar-benar Paling Indonesia.

 

Tulisan ini dipersembahkan untuk mengikuti kontes blog 17 tahun Telkomsel bersama Angingmammiri. Semoga artikel nya bermanfaaat.

One thought on “Nilai Historis Tumpeng Sebagai Hidangan Nasional

Comments Box

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s