Revolusi Angklung Sebagai Inventaris Kebudayaan Indonesia

Angklung adalah jenis alat musik tradisional yang berkembang di tataran sunda, Jawa Barat. Didalam Buku Seni dan Budaya yang ditulis oleh Harry Sulastianto menyebutkan bahwa perkembangan musik angklung diklasifikasikan menjadi 7 masa, yaitu Masa Prasejarah, Masa Pengaruh Hindu, Masa Pengaruh Islam, Masa Pengaruh Cina, Masa Pengaruh Barat, Masa Kemerdekaan Indonesia dan Masa Globalisasi.

  • Masa Prasejarah

Pada masa ini berlangsung sejak abad-abad sebelum Masehi sampai awal Masehi dimulai, dimana masyarakat Jawa Barat masih mempunyai kepercayaan animisme. Angklung masih digunakan sebagai media komunikasi terhadap roh-roh nenek moyang dalam berbagai upacara-upacara penyembahan dan belum mengoptimalkan penggunaan bahan bambu sebagai alat musik. Hal yang terpenting adalah bagaimana mereka menemukan bunyi hanya sebatas alat komunikasi.

  • Masa Pengaruh Hindu

Sama seperti pada Masa Prasejarah, pada masa ini angklung masih digunakan sebagai upacara penyembahan, yaitu Upacara Seren Tahun yang dilakukan setiap selesai panen. Jenis angklung yang digunakan dalam upacara ini adalah jenis Angklung Dodog Lojor yang berkembang di daerah Badui dan digunakan sebagai lambang suci dalam upacara penyembahan , yaitu untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

  • Masa Pengaruh Islam

Angklung dalam masa pengaruh islam ini disajikan sebagai media dakwah dalam mengembangkan ajaran Islam yang berlangsung sekitar abad ke-13 sampai abad ke-18 dan terkadang dipadu dengan berbagai jenis instrumen bernuansa religius. Jenis angklung yang digunakan pada masa ini adalah jenis Angklung Badeng yang berkembang di daerah Malangbong, Garut.

  • Masa Pengaruh Cina

Kesenian budaya Cina yang terkenal adalah Barongsay. Barongsay ini diekspresikan memalui bentuk ular naga yang konon sudah dipadukan pada salah satu pertunjukkan angklung Badui di daerah Cijulang, Ciamis. Penggunaan alat musik angklung pada masa ini banyak disajikan dengan pementasan teater dengan cerita lahirnya Dewi Sri dan hubungannya dengan Dewa Anta yang berbentuk ular naga. Pada pertunjukkan ini para pemain menggunakan kostum Barongsay dan kostum binatang.

  • Masa Pengaruh Barat

Pada masa ini terjadi pada akhir abad ke-16 sampai awal abad ke-20, ketika Indonesia mengalami revolusi fisik pada masa penjajahan. Di bidang musik, terjadi penyerapan kebudayaan Eropa dengan musik yang mempunyai tangga nada diatonis ke dalam kebudayaan lokal. Struktur tangga nada diatonis inilah yang di transfer bahkan diwujudkan dalam alat-alat tradisional Indonesia termasuk angklung. Angklung digunakan sebagai akommpanyemen adaptasi instrumen pengiring akord-akord dasar untuk musik Barat.

  • Masa Kemerdekaan Indonesia

Pada masa ini, musik angklung menjadi pengiring lagu-lagu nasional yang memberi semangat bagi perjuangan. Musik angklung pun menjadi media pendidikan untuk mempelajari sejarah Kemerdekaan Indonesia serta sering dipertunjukkan dalam pembukaan peristiwa-peristiwa penting, seperti perunfingan-perundingan.

  • Masa Globalisasi

Masa ini ditandai dengan keterlibatan dan masuknya pengaruh berbagai jenis musik internasional. Format kesenian angklung mengalami perubahan, baik dari aspek instrumentasi maupun cara pertunjukan. Musik angklung juga tidak hanya dipertunjukkan dalam negeri, teapi juga di mancanegara.

Masyarakat Jawa Barat sedang memainkan musik angklung

(Indonesian Heritage, 1998 dikutip Sulastianto, 2006)

Angklung pada tahun 1918

(Sumber foto click pada foto)

Seiring berkembangnya teknologi, alat musik angklung pun turut berkembang, seperti munculnya inovasi angklung otomatis oleh mahasiswa STIKOM Surabaya pada  Tahun 2009. Angklung otomatis ini merupakan alat musik yang diberi memori pada bagian mikro kontroler untuk menyimpan lagu-lagu (Sumber informasi click here).

Angklung Otomatis

(Sumber foto clcik pada foto)

Kemudian pada tahun yang sama, muncul pula inovasi angklung Tra-Digi yang digelar di Sasana Budaya Ganesha. Angklung Tra-Digi ini menggunakan perangkat lunak dari apple, di mana angklung-angklung tersebut diwadahi oleh sebuah peti. Di dalam peti tersebut, tersimpan perangkat lunak yang diprogram untuk menggetarkan angklung yang dapat memainkan lagu-lagu yang berformat midi atau DVD (Sumber informasi click here).

(Sumber foto click pada foto)

Sebagai upaya mempertahankan inventaris kebudayaan Indonesia, saat ini banyak bermunculan perkumpulan-perkumpulan angklung baik di lingkungan pendidikan maupun secara umum, seperti adanya kegiatan ekstrakulikuler angklung SMAN 5 Bandung (CAV, Corps Angklung Lima), Angklung SMAN 3 Bandung, Angklung Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Saung Angklung Udjo yang terletak di Padasuka, Bandung. Angklung ini pun sudah diakui keberadaan nya oleh UNESCO sejak Bulan November Tahun 2010 sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia.

Kebetulan saya sendiri merupakan alumni SMAN 5 Bandung yang lulus tahun 2008 lalu, sehingga saya cukup banyak mendengar mengenai perkembangan angklung di kalangan SMA saat itu, apalagi karena di SMA 5  terdapat ekstrakulikuler angkung yang disebut CAV (tapi sayang sekali, saya tidak ikut berpartisipasi sebagai anggota CAV karena sudah direkrut terlebih dahulu oleh ekstrakulikuler lainnya ). Komunitas Angklung yang berada di sekolah saya semasa SMA ini sering menampilkan pertunjukkan angklung dengan genre musik yang lebih modern, seperti membawakan lagu-lagu dari maroon-5, Afgan, Sherina dan genre-genre musik lainnya yang sedang hits di masa nya. Menurut saya, adanya campuran lagu-lagu barat yang dipadukan dengan angklung ini dapat menambah nilai seni Budaya Indonesia yang menunjukkan kekreativitasan seni tradisional sehingga lebih mudah dikenal di mata dunia.

Tulisan ini dipersembahkan untuk mengikuti Lomba Blog 17 Tahun Telkomsel. Semoga artikelnya bermanfaat

Comments Box

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s