Am I A whole Brain Thinking?

Otak manusia terbagi menjadi 2 bagian yaitu otak kiri dan  kanan, dimana kedua otakitu mempunyai fungsi yang beda-beda. Dikutip dari Jurnal Management Vol2, cara berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional, sisi ini sangat teratur. Walaupun bersifat realistis, otak ini mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.

Cara berpikir otak kanan berpikir acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik.Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk, pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas, dan visualisasi.

Orang-orang yang dapat menyeimbangkan otak kiri dan kanan nya atau disbeut juga pemikiran menyeluruh (Whole Brain Thinking) cenderung akan lebih bisa menahan emosinya dan banyak berpikir lebih positif. Dimana menurut Bahaudin (2000) menyatakan bagian dari otak manusia yang berhubungan langsung dengan proses terjadinya emosi adalah amygdala yang merupakan salah satu bagian dalam limbic system. Dalam kaitannya dengan otak berpikir, amygdala mampu mengambil alih pengendalian kerja dari otak berpikir tersebut dalam pengambilan keputusan, artinya keputusan yang diambil sangat diwarnai atau dikendalikan oleh perasaan.

Goleman (2005) mengutip definisi dasar kecerdasan emosional Salovey yang  meliputi 4 (empat) hal utama:

  1. Mengenali emosi diri. ”Kenalilah dirimu” menunjukkan inti kecerdasan emosional: kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu timbul. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat seseorang berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka.
  2. Mengelola emosi. Emosi dapat berbentuk amarah, kecemasan, dan kesedihan. Mengelola emosi berbicara cara menangani amarah, kecemasan, dan kesedihan.
  3. Memotivasi diri sendiri.  Optimisme – motivator utama. Seligman mendefinisikan optimisme dalam kerangka bagaimana orang memandang keberhasilan dan kegagalan mereka. Orang yang optimis menganggap kegagalan disebabkan oleh sesuatu hal yang dapat diubah sehingga mereka dapat berhasil pada masa-masa mendatang; sementara orang yang pesimis menerima kegagalan sebagai kesalahannya sendiri, menganggapnya berasal dari pembawaan yang telah mendarah daging yang tidak dapat mereka ubah. Dari titik padang kecerdasan emosional, optimisme merupakan sikap yang menyangga orang agar jangan sampai terjatuh ke dalam kemasabodohan, keputusasaan, atau depresi jika dihadang kesulitan.
  4. Mengenali emosi orang lain. Empati merupakan keterampilan bergaul yang mendasar. Menurut bahasa aslinya (Yunani) empati berasal dari kata ”empatheia” yang berarti ikut merasakan. E.B Titcher seorang ahli psikologi Amerika (1920) menggunakan istilah mimikri motor sebagai arti teknis asli kata empati. Empati menurutnya berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain yang kemudian menimbulkan perasaan yang serupa dalam diri seseorang. Hal ini berimplikasi pada memahami perasaan orang lain, berpikir dari sudut pandang orang lain, menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai berbagai hal.
  5. Keterampilan membina hubungan . Menangani emosi orang lain, seni yang mantap menjalin hubungan membutuhkan kematangan dua keterampilan emosional yang lain, yaitu: manajemen diri dan empati. Dengan landasan ini, keterampilan membina hubungan dengan orang lain akan matang. Tidak dimilikinya keterampilan ini akan membawa bencana antarpribadi.

Salah satu kunci kecakapan sosial adalah seberapa baiknya seseorang mengungkapkan perasaannya sendiri. Paul Ekman menggunakan istilah tatakrama tampilan mengenai perasaan-perasaan mana saja yang dapat diperlihatkan secara wajar pada saat yang tepat. Menurutnya terdapat 3 cara dalam pengungkapan perasaan: (1) melebih-lebihkan, (2) meminimalkan, (3) menggantikan/subtitusi.

Nah, udah sinkron kah otak kamu?? sehingga bisa menyeimbangkan antara logika dan emosi??

Comments Box

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s